Senin, 10 Januari 2011

Penyesalan

Senin, 10 Januari 2011

Mungkin memang benar.

Adalah suatu kesalahan saat aku memberimu kesempatan untuk mencintaiku.

Padahal sebenarnya aku tak mencintaimu.

Saat kau begitu besar mencintaiku, aku suruh kau pergi dariku karena aku takut bila mencintaimu.

Sekarang saat kau benar-benar pergi dariku, justru aku menginginkanmu kembali.

Aku telah salah menyuruhmu pergi karena aku amat kehilangan dirimu.

Aku tak sadar kalau ternyata aku sangat mencintaimu.

Sekarang kau telah bersamanya.

Meskipun aku yakin kau masih mencintaiku.

Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan cintamu.

Semoga kau bahagia bersamanya.

Dan semoga aku dapat melupakan cintaku padamu.

Kamis, 09 Desember 2010

Titik Terendah

Kamis, 09 Desember 2010
Aku pikir, ini saat yang tepat bagiku untuk memutar roda kehidupanku...
Ya, memang sudah saatnya roda itu berputar ke atas...
Karena sudah terlalu lama aku berada di bawah...

Tapi kenapa, disaat kumulai semua ini, justru kekecewaan yang ku dapat...
Aku tak mengerti...
Aku coba menelaah, sekiranya ada yang salah dari diriku...
Dan memang benar, ada yang terlupa...

Benar memang, usaha tanpa doa itu percuma dan doa tanpa usaha itu sia-sia...
Laiknya sekarang...
Aku terlalu sombong...
Aku terlalu menyepelekan...
Aku terlalu percaya diri hingga kulupa akan ketidakmampuanku...

Kumisalkan kemampuanku 100...
Seharusnya aku bisa melebihi angka 100...
Tapi justru sebaliknya, aku malah berada di bawah angka 100...

Sakit hati, kecewa, lemas rasanya tubuhku...
Ini memang kesalahanku...
Kesalahan yang selalu aku sadari, tapi selalu pula kuulangi...

Bodoh...
Apa sebenarnya mauku...???
Aku tahu, ini penentuan dan harga mati untukku...
Tapi, aku di ambang kegagalan, ku kecewakan diriku sendiri, dan aku mengubur impianku sendiri...

Aku takut, jika Allah tak memberiku kesempatan di babak awal ini...
Padahal semua orang tahu, seberapa berharapnya aku dengan hal ini...
Dan aku tak hanya kecewakan diriku sendiri, tapi aku juga kecewakan orang tuaku..

Maaf beribu maaf...
Kesalahan yang sama telah kuukir kembali...
Tapi sungguh, aku benar-benar menyesal...

Kupikir, ini saatnya kawan menjadi lawan...
Bukan dalam hal kehidupan sosial...
Tapi, dalam hal pelajaran dan persaingan di ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi...
Diluar itu, mereka tetap kawanku...
Sahabatku...

Aku tak boleh menyerah begitu saja...
Aku sudah mendapatkan hidayah dan kemauan dari Allah...
Aku tak boleh membiarannya pergi begitu saja dari diriku, karena begitu sulitnya mendapatkannya...

Dan semoga Allah masih memberiku kesempatan di babak awal ini...
Semoga ku dapatkan apa yang aku inginkan dan apa yang seharusnya jadi takdirku...
Karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak merubah nasib mereka sendiri...

Aku selalu percaya bahwa rencana Allah jauh lebih indah bagiku daripada rencanaku...
Tapi, tolong dengarkan pintaku ya Allah, kabulkanlah doaku, semoga ini petunjuk terbaik darimu...
Terima kasih juga ya Allah karena sudah memantapkan hatiku untuk menentukan pilihanku...

Aku ingin membahagiakan orangtuaku...
Aku ingin membayar kekecewaan ibuku...
Aku ingin menjadi yang terbaik diantara yang terbaik...
Aku ingin mencari ridho-Mu...
Aku ingin ini menjadi langkah awal dari perjuanganku yang tak pernah berhenti untuk diriku, keluargaku, agamaku, nusa dan bangsaku...

Sekali lagi ya Allah, kabulkan pintaku agar aku di terima di ptn dan jurusan yang aku inginkan lewat pmdk...
Kalaupun aku gagal di pmdk, maka beri aku jalan di snmptn ya Allah...
Amin ya rabbal'alamin...

Selasa, 23 November 2010

35 soal, 3 hari...???

Selasa, 23 November 2010
hari ni tmen sbangku q gag masuk... jadi brasa kyak anak itik yg khilangan induknya... hihihi... tapi gag mslah...
paling gokil wktu pljran matematika... bu guru nyuruh qt ngerjain soal d bku pket... kalo gak salah ada 20 soal... pas jamnya abis, d tnyain tuh ama bu guru... "wis ntuk pirang nomer cah...???" ada tmen q yg jwab..."6 bu... hehe"
"gusti,, 2 jam pljran ki cuma entuk 6 nomer...??? lha nek 30 soal pilgan d tmbah 5 essay rak 3 dina lagi bar wie..??? wegah aq nek mbok kon nunggoni 3 dina..!!" komentar guru q...
yah,, qt sih cuma cengar-cengir aja... dasar taman kaplak-kaplak...!! ckckck...

Sabtu, 20 November 2010

my heart will go on

Sabtu, 20 November 2010
sejujurnya, kuakui aku masih mencintaimu...
tapi, ada satu pertanyaan yang bergelayutan di pikiranku...
kenapa dia begitu lama tak menghubungiku??
kemana dia??
apa dia sudah melupakanku??
apa aku terlalu membuatnya kecewa??
apa dia sudah benar-benar melupakanku??
melupakan janji yang pernah dia ucap padaku??
bodoh memang kalau dulu aku terlalu mempercayainya...
tapi aku sudah telanjur mencintainya...
sulit bagiku menanggalkan cinta ini...
tolonglah,, maafkan keegoisanku...
aku menyesal...
aku begitu merindukan kamu yang dulu...

The Journey of My Aims

Kedokteran. Itulah alasan mengapa aku memilih jurusan IPA saat kelas X SMA. Cita-cita yang begitu lama bertengger di otakku. Cita-cita karena iming-iming menggiurkan yang di torehkan di khayalku.

Yah, meskipun keinginan menjadi dokter telah memudar saat aku duduk di kelas VIII SMP. Saat itu, kutemukan dunia yang aku cari. Dunia yang menggambarkan aku, diriku, karakterku, dan kesukaanku. Jurnalistik. Sesederhana itulah yang aku impikan. Aku begitu terobsesi akan pekerjaan itu. Bagiku itu pekerjaan yang menyenangkan dan tidak membosankan bagiku. Ketika aku mengutarakan keinginanku untuk menjadi jurnalis kepada ayahku, sontak ayahku menolak. Menurut beliau, buat apa kerja berpanas-panasan, berlarian kesana kemari sekadar mencari sebait berita. "Lebih baik cari kerja yang tidak bekerja fisik, bekerja otak, di ruangan ber-AC, di gedung yang nyaman." seingatku, begitu tanggapan beliau. "Tapi, justru itu yang aku cari. Aku suka. Aku pasti bisa, sanggup, dan mampu." begitu kata hatiku.

Kecewa. Pasti. Setidaknya, aku sudah mendapatkan isyarat ketidaksetujuan dari ayahku. Pada akhirnya asa itu hanya kusimpan di relungku yang terdalam. Berbeda dengan ayahku. Ibuku memberi kebebasan padaku tentang asaku. Ibu mendukungku. Itu karena ibuku juga kuliah di bidang tersebut. Aku senang. Setidaknya aku mendapat lampu hijau dari ibuku. Kubiarkan asa itu bertengger di otakku barang sejenak.

Semakin hari keinginan itu semakin kuat hingga aku berada di kursi kelas X SMA. Aku mulai diliputi dilema saat blanko penjurusan ada di tanganku di akhir tahun ajaran. Jurusan mana yang akan aku pilih? Hasil tes IQ-ku menunjukkan angka 107 untuk IPS dan 106 untuk IPA. beda tipis memang, tapi aku disarankan untuk memilih IPA.

Faktanya, aku memang lebih condong ke pelajaran IPA, meskipun nilai Sosiologiku selalu diatas 90. Tapi, diantara mapel IPS, hanya Sosiologi yang aku bisa. Ekonomi, aku bener-bener angkat tangan. Geografi, belajar sampai jungkir balikpun tetep aja nilaiku jeblok. Selain itu, ayahku masih berkeinginan agar aku menjadi dokter. Alhasil, aku memilih jurusan IPA.

Saat pembagian rapor semester 2, aku sempet ketar-ketir juga. Ada perasaan takut jika nantinya aku masik IPS. Aku memang nggak masuk sekolah saat pembagian rapor. Begitu ibuku pulang, aku langsung nanya hasilnya. Ibuku bilang aku naik dan masuk IPA. Girangnya bukan main hatiku. Huh, paling nggak aku nggak tersiksa di sarang IPS. Dan aku senang, karena dengan begitu aku terhindar dari pelajaran Ekonomi. :D

Banyak aral melintang di kelas XI SMA, terutama pada pelajaran Fisika. Bukan karena pelajarannya yang sulit, tapi karena kelasku mendapatkan guru yang kurang mengenakkan cara mengajarnya. Kami memang kurang beruntung. Untungnya masih ada Kepala Sekolahku yang seorang master fisika. Aku dan teman sekelasku berbondong-bondong privat kepada beliau sekalian curhat juga sih.. hehehe).

Memasuki tahun ketiga di kelas XII SMA, aku baru benar-benar merasa sebagai anak IPA. Tidak seperti kelas XI yang masih bisa bermain-main, aku benar-benar dituntut untuk lebih rajin belajar. Jadwal pelajaranku pun juga membuatku merasa menjadi anak IPA, karena aku mendapatkan semua mapel IPA dalam satu hari pada hari-hari tertentu. Awalnya sulit, tapi lama-lama terbiasa dan menyenangkan.

Aku kembali merasakan dilema saat menentukan tujuanku selanjutnya. Jurusan mana yang akan aku pilih di Perguruan Tinggi nanti. Aku mantap memilih Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP dan aku berencana mengambil PMDK. Tapi, aku kecewa karena ternyata jurusan IPA tidak bisa mengambil PMDK di jurusan IPS. Otakku mulai berfikir. Jurusan apa yang akan aku pilih untuk PMDK? Setelah sekian lama berfikir, aku memilih Pendidikan Kimia FIP UNNES dengan alasan orientasi karier. Jadi aku nggak nganggur saat lulus kuliah nanti dan pekerjaanku jelasm sebagai seorang guru. Kuutarakan niat baikku kepada orang tuaku, dan mereka menyambut dengan baik.

Kemarin, saat liburan Idul Adha di Semarang, ibuku bilang ke Pakdheku tentang pilihanku. Kata Pakdheku nggak usah, dan dengan mantapnya mengatakan, "PMDK Kedokteran aja." Orangtuaku tersenyum dan bertanya tentang tanggapanku mengenai hal tersebut. Aku sih cuma cengengesan aja sembari merenung. Pakdheku saja begitu yakin kalau aku mampu, begitu juga ayahku. Masa aku nggak percaya sama diriku sendiri? Di mobil, ayahku meminta kakak sepupuku untuk menasihatiku sembari membujuk secara tidak langsung agar aku mau sekolah di kedokteran.

Di rumah, saat aku mengobrol dengan ayahku tentang perjuangan kita sebagai umat Islam, ayahku berkata, "Kalau mau berjuang itu harus punya uang." Aku pun berfikir, kalu aku hanya menjadi seorang guru, otomatis aku susah jadi orang kaya. Artinya, aku juga bakal susah untuk berjuang dan beramal untuk agama Islam. Akhirnya dengan mengucap bismillahirrahmaanirrahiim, aku memutuskan untuk mengambil PMDK Kedokteran. Semoga Allah memudahkan jalanku. Mengenai asaku yang lain (Ilmu Komunikasi dan Ilmu Hukum), akan ku jadikan alternatif dari kemungkinan terburuk.

Ya Allah, tunjukkanlah yang terbaik bagi hamba. Mudahkanlah urusan hamba di dunia ini. Dan ridhoilah pilihanku ini. Semoga pilihan ini datang sebagai petunjuk dari-Mu Ya Allah. Hanya kepada-Mulah hamba berserah diri. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Selasa, 26 Oktober 2010

Selamat Tinggal Cinta

Selasa, 26 Oktober 2010

Dulu aku sempat tertarik padamu...

Dulu aku sempat menjadi pemujamu...

Dulu aku sempat berharap menjadi milikmu...

Dan dulu kau merasakan hal yang sama terhadapku...

Tapi,,,

Mengapa kau tanggalkan rasa itu...???

Aku memang telah pergi dari kehidupanmu...

Tapi,, bukan berarti aku pergi untuk selamanya...

Aku pergi untuk kembali padamu...

Ah,, sayangnya kau tak pernah tahu dan mempercayaiku...

Sampai akhirnya...

Kau berubah...

Tak lagi ada aku di hatimu...

Aku tak menyerah...

Ku tunggu kau dengan segenap jiwa...

Berharap sang Maha Cinta,,,

memberimu lagi cinta untukku...

Bertahun-tahun kujaga cinta ini...

Tak secuilpun tanda-tanda kehadiranmu...

Malah,, kau semakin jauh...

Jauh dalam gapaianku...

Sekarang aku mulai lelah dengan cinta ini...

Aku mulai lelah menjaga kesetiaan ini...

Aku sudah lelah menanti,, dan terus menanti...

Aku rasa tak perlu lagi ku teruskan cinta ini...

Meskipun cinta itu semakin dalam,, dan semakin dalam...

Namun aku tahu,, cintamu tak pernah lagi ada untukku...

Sabtu, 18 September 2010

Hukum di Mataku

Sabtu, 18 September 2010

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 Pasal 1 ayat 3, yang berbunyi: ”Negara Indonesia adalah negara hukum.” Lantas, timbul satu pertanyaan. Apakah latar belakangnya sehingga kita mengklaim negara kita sebagai negara hukum?

Cobalah sejenak kita tilik sejarah negara kita. Sejak zaman dahulu, masyarakat kita sudah mengenal hukum tak tertulis, yang disebut hukum adat. Masing-masing suku memiliki hukum adatnya sendiri. Masyarakat amat tunduk dan patuh terhadap hukum adat tersebut, meskipun barangkali tak pernah ada yang mengumumkan apa saja aturan yang berlaku di suku tersebut. Semua orang tunduk dan patuh terhadap aturan yang berlaku di daerahnya. Para pemimpin amat mencintai dan memperhatikan rakyatnya. Begitupula dengan rakyatnya, sangat menghormati pemimpinnya. Masyarakat hidup berdampingan, penuh toleransi, aman, dan tenteram. Bisa anda bayangkan betapa nyamannya hidup kala itu. Kita ingat saat kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit berjaya. Meskipun wilayah kekuasaannya lebih luas daripada luas wilayah Indonesia saat ini, rasa-rasanya rakyat masih bisa hidup lebih layak dan sejahtera. Anda tahu kenapa? Karena, tingkat kesadaran hukum dan moralitas yang tinggi di kalangan masyarakat. Mereka akan merasa malu dan hina jika melanggar hukum adat yang ada. Dan karena itu jugalah tingkat kriminalitas saat itu terbilang kecil.

Lalu, bagaimana dengan realitas kehidupan sekarang?

Dalam hidup memang harus ada hukum atau aturan. Karena jika tidak, tentulah kehidupan ini sudah kacau-balau. Sebagai masyarakat awam, saya melihat banyak orang yang mengernyitkan dahi jika ditanya tentang hukum. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Yang jelas, ada hawa menyudutkan dari sorot mata mereka. Diantara mereka ada yang mengidentikkan hukum dengan korupsi, koruptor. Ada pula yang mengatakan kalau hukum itu sama halnya dengan politik, kotor.

Saya teringat dengan pernyataan yang saya sampaikan kepada kakak kelas saya bahwa setelah lulus SMA nanti saya ingin melanjutkan sekolah di jurusan hukum. Beliau sedikit terperangah, karena setahu dia, dulu saya tidak tertarik dengan bidang hukum, meskipun saya anak dari seorang praktisi hukum. Saat ditanya kenapa, saya hanya menjawab, ”Cari peluang kerja. Kalau di hukum kan lumayan banyak juga.” Beliau lalu sedikit menasehati saya. ”Hati-hati lho dek. Mahasiswa hukum saja sudah banyak yang belajar korupsi.” Entah hal tersebut yang gumuni atau memang saya yang gumunan, saya merespon dengan mulut menganga dan berkata, ”Waw!” Benar-benar miris. Mahasiswa hukum yang nantinya menjadi tumpuan negara ini justru sudah belajar ngorup. Na’udzubillahi min dzalik. Inikah gambaran hukum di masa mendatang. Kapan negara ini akan maju kalau begitu caranya?

Hukum tak melulu diidentikkan dengan korupsi. Nyatanya ayahku masih bersikap bersih dan adil dalam menjalankan tugasnya. Imej buruk tersebut amat sangat tidak layak untuk ditujukan kepada ayahku. Sebagai pemeluk Islam, ayahku benar-benar memegang teguh ajarannya. Ayahku seorang yang taat beragama dan tentulah takut terhadap dosa. Ayahku juga percaya bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini pastilah mendapat balasan di hari akhir nanti. Maka dari itu, ayahku sangat amanah dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Meskipun berat dan aral sering menghadang, ayahku tetap teguh dengan apa yang diyakininya, yaitu kejujuran. Sikap itulah yang selalu beliau tanamkan kepada anak-anaknya. Beliau juga sering bercerita saat sedang sidang dalam penyelesaian sebuah perkara. Banyak hal-hal lucu, menarik, dan menegangkan dari apa yang kusimak dari cerita ayah. Itulah yang membuatku tertarik dengan hukum. Bagiku hukum itu adalah seni. Ada permainan akal dan hati, yang disusun menjadi sebuah strategi dalam menyelesaikan perkara. Hukum itu indah, jika didasari dengan sebuah kejujuran, keikhlasan, dan bersyukur terhadap pemberian Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Saat tulisan ini kubuat, aku masih duduk di bangku kelas XII SMA. Kelak, akan kutunjukkan pada dunia tentang seni dan keindahan hukum. Akan kuturutkan keinginan orang tuaku. Tujuanku ingin menjadi seorang hakim yang arif, bijaksana, dan bersih. Alternatifnya, aku ingin menjadi seorang dosen dan menjadi ahli hukum, dan jika Allah menghendaki, aku juga ingin menjadi seorang menteri hukum dan HAM dan mengajak seluruh lapisan masyarakat agar sadar dan taat hukum. Dan suatu hari nanti kau akan tahu kawan, betapa indahnya seni hukum jika kau mampu menghayatinya.

Karanganyar, Mendala, Sirampog, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah,

11 September 2010, selesai pukul 21.32 WIB.

 
◄Design by Pocket